Hidup itu tak pernah indah jika bukan kita sendiri yang mengubahnya menjadi indah
Minggu, 20 Januari 2013
SIK
Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
Tujuan SIK untuk mentransformasi data yang tersedia melalui pencatatan.
Ditulis Oleh : Heru Supanji, S.Pd,MM
Sistem informasi terdiri dari dua kata, yaitu sistem dan informasi. Sistem adalah kumpulan elemen yang berintegrasi untuk mencapai tujuan tertentu, sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil keputusan saat ini atau mendatang (Davis, 1999).
Informasi dapat menggambarkan kejadian nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Sumber dari informasi adalah data yang dapat berbentuk huruf, simbol, alfabet dan lain sebagainya. Pada intinya sistem informasi itu tidak lepas dari input-proses-output, data yang diproses oleh sistem sehingga menghasilkan suatu output (informasi).
Di Indonesia sendiri telah ada susunan undang undang yang menjelaskan tentang informasi yaitu :
Menurut UUD 1945, Pasal 28; Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pasal 7 menyebutkan bahwa “setiap orang berhak mendapatkan informasi dan edukasi tentang kesehatan yang seimbang dan bertanggungjawab”. Sistem Informasi Kesehatan (SIK) nasional bertugas menjawab tantangan tersebut.
Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari Sistem Kesehatan di suatu negara. Kemajuan atau kemunduran Sistem Informasi Kesehatan selalu berkorelasi dan mengikuti perkembangan Sistem Kesehatan, kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bahkan mempengaruhi Sistem Pemerintahan yang berlaku di suatu negara.
Ketika sistem pemerintahan Indonesia berubah dari setralisasi ke desentralisasi, maka SIK ikut terpengaruh, beberapa masalah mengemuka. Salah satu masalah itu, terjadinya kesenjangan dalam aliran data dari unit pelayanan kesehatan terdepan (Puskesmas dan jaringannya serta Rumah Sakit) hingga ke jenjang administrasi kota dan kabupaten, provinsi dan pusat. Masalah lain, tidak berpungsinya Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NPSK) sistem pencatatan dan pelaporan sebagaimana layaknya seperti sebelum sistem desentralisasi diterapkan.
Apakah Sistem Informasi Kesehatan itu?
Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah suatu sistem pengelolaan data dan informasi kesehatan di semua tingkat pemerintahan secara sistematis dan terintegrasi untuk mendukung manajemen kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Suatu sistem informasi terdiri dari data, manusia dan proses serta kombinasi perangkat keras, perangkat lunak dan teknologi komunikasi. Penggunaan informasi terdiri dari 3 tahap yaitu pemasukan data, pemrosesan, dan pengeluaran informasi.
Sistem informasi kesehatan (SIK) merupakan subsistem dari Sistem Kesehatan Nasional (SKN) yang berperan dalam memberikan informasi untuk pengambilan keputusan di setiap jenjang administrasi kesehatan baik di tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kota atau bahkan pada tingkat pelaksana teknis seperti rumah sakit ataupun puskesmas.
Dalam bidang kesehatan telah banyak dikembangkan bentuk-bentuk system informasi kesehatan (SIK). Tujuan dikembangkannya berbagai bentuk SIK tersebut adalah agar dapat mentransformasi data yang tersedia melalui sistem pencatatan rutin maupun non rutin menjadi sebuah informasi yang adequate untuk membantu pengambilan keputusan di bidang kesehatan.
Peranan SIK dalam Sistem Kesehatan
Menurut WHO, Sistem Informasi Kesehatan merupakan salah satu dari 6 “building blocks” atau komponen utama dalam Sistem Kesehatan di suatu negara. Keenam komponen (buliding blocks) Sistem Kesehatan tersebut ialah :
1. Servis Delivery (Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan)
2. Medical product, vaccines, and technologies (Produk Medis, vaksin, dan Teknologi Kesehatan)
3. Health Workforce (Tenaga Medis)
4. Health System Financing (Sistem Pembiayaan Kesehatan)
5. Health Information System (Sistem Informasi Kesehatan)
6. Leadership and Governance (Kepemimpinan dan Pemerintahan)
SIK di dalam Sistem Kesehatan Nasional Indonesia
Sistem Kesehatan Nasional Indonesia terdiri dari 7 subsistem, yaitu :
1. Upaya Kesehatan
2. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
3. Pembiayaan Kesehatan
4. Sumber Daya Mansuia (SDM) Kesehatan
5. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan
6. Manajemen, Informasi, dan Regulasi Kesehatan
7. Pemberdayaan Masyarakat
Di dalam Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari sub sistem ke 6 yaitu : Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan merupakan subsistem yang mengelola fungsi-fungi kebijakan kesehatan, adiminstrasi kesehatan, informasi kesehatan dan hukum kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan upaya kesehatan nasional agar berdaya guna, berhasil gunam dan mendukung penyelenggaraan keenam subsitem lain di dalam Sistem Kesehatan Nasional sebagai satu kesatuan yang terpadu.
Manfaat Sistem Informasi Kesehatan
Begitu banyak manfaat Sistem Informasi Kesehatan yang dapat membantu para pengelola program kesehatan, pengambil kebijakan dan keputusan pelaksanaan di semua jenjang administrasi (kabupaten atau kota, propvinsi dan pusat) dan sistem dalam hal berikut :
1. Mendukung manajemen kesehatan
2. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
3. Mengintervensi masalah kesehatan berdasarkan prioritas
4. Pembuatan keputusan dan pengambilan kebijakan kesehatan berdasarkan bukti (evidence-based decision)
5. Mengalokasikan sumber daya secara optimal
6. Membantu peningkatan efektivitas dan efisiensi
7. Membantu penilaian transparansi
Permasalahan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
Permasalahan mendasar Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia saat ini antara lain :
1. Faktor Pemerintah
Standar SIK belum ada sampai saat
Pedoman SIK sudah ada tapi belum seragam
Belum ada rencana kerja SIK nasional
Pengembangan SIK di kabupaten atau kota tidak seragam
2. Fragmentasi
Terlalu banyak sistem yang berbeda-beda di semua jenjang administasi (kabupaten atau kota, provinsi dan pusat), sehingga terjadi duplikasi data, data tidak lengkap, tidak valid dan tidak conect dengan pusat.
Kesenjangan aliran data (terfragmentasi, banyak hambatan dan tidak tepat waktu)
Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa : Puskesmas harus mengirim lebih dari 300 laporan dan ada 8 macam software RR sehingga beban administrasi dan beban petugas terlalu tinggi. Hal ini dianggap tidak efektif dan tidak efisien.
Format pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum standar secara nasional.
3. Sumber daya masih minim
Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia telah dan akan mengalami 3 pembagian masa sebagai berikut :
1. Era manual (sebelum 2005)
2. Era Transisi (tahun 2005 – 2011)
3. Era Komputerisasi (mulai 2012)
Masing-masing era Sistem Informasi Kesehatan memiliki karakteristik yang berbeda sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman (kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi - TIK).
1. Era Manual (sebelum 2005)
Aliran data terfragmentasi. Aliran data dari sumber data (fasilitas kesehatan) ke pusat melalui berbagai jalan.
Data dan informasi dikelola dan disimpan oleh masing-masing Unit di Departemen Kesehatan.
Bentuk data : agregat.
Sering terjadi duplikasi dalam pengumpulan data.
Sangat beragamnya bentuk laporan.
Validitas diragukan.
Data sulit diakses.
Karena banyaknya duplikasi, permasalahan kelengkapan dan validitas, maka data sulit dioah dan dianalisis.
Pengiriman data masih banyak menggunakan kertas sehingga tidak ramah lingkungan.
2. Era Transisi (2005 – 2011)
Komunikasi data sudah mulai terintegrasi (mulai mengenal prinsip 1 pintu, walau beberapa masih terfragmentasi).
Sebagian besar data agregat dan sebagian kecil data individual.
Sebagian data sudah terkomputerisasi dan sebagian masih manual.
Keamanan dan kerahasiaan data kurang terjamin.
3. Era Komputerisasi (mulai 2012)
Pemanfaatan data menjadi satu pintu (terintegrasi).
Data inbdividual (disagregat).
Data dari Unit Pelayanan Kesehatan langgsung diunggah (uploaded) ke bangk data di pusat (e-Helath).
Penerapan teknologi m-Health dimana data dapat langsung diunggah ke bank data.
Keamanan dan kerahasiaan data terjamin (memakai secure login).
Lebih cepat, tepat waktu dan efisien.
Lebih ramah lingkungan.
Sistem Informasi Kesehatan di masa Depan
Dalam upaya mengatasi fragmentasi data, Pemerintah sedang mengembangkan aplikasi yang disebut Sistem Aplikasi Daerah (Sikda) Generik. Sistem Informasi Kesehatan berbasis Generik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :
Input pencatatan dan pelaporan berbasis elektronik atau computerized.
Input data hanya dilakukan di tempat adanya pelayanan kesehatan (fasilitas kesehatan).
Tidak ada duplikasi (hanya dilakukan 1 kali).
Akurat, tepat, hemat sember daya (efisien) dan transfaran. Tejadi pengurangan beban kerja sehingga petugas memiliki waktu tambahan untuk melayani pasien atau masyarakat.
Data yang dikirim (uploaded) ke pusat merupakan data individu yang digital di kirim ke bank data nasional (data warehouse).
Laporan diambil dari bank data sehingga tidak membebani petugas kesehatan di Unit pelayanan terdepan.
Puskesmas dan Dinas Kesehatan akan dilengkapi dengan peralatan berbasis komputer.
Petugas akan ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan untuk menerapkan Sikda Generik.
Mudah dilakukan berbagai jenis analisis dan assesment pada data.
Secara bertahap akan diterapkan 3 aplikasi Sikda Generik yaitu Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Sistem Informasi Dinas Kesehatan dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.
Sumber: http://herusupanji.blogspot.com/2012/10/sistem-informasi-kesehatan.html
Jumat, 18 Januari 2013
Update Galaxy W dengan AOKP
Mau berbagi pengalaman nih
materi ini di copi dari sumber yang terpercaya dah sudah terbukti.
saya sudah mencobanya dan ternyata berhasil Galaxy W yang tadinya berbasis Gingerbread bisa di Upgrade ke ICS. MEskipun terkesan memaksakan tapi jauh nyaman dengan ICS dibandingkan Gingerbread so selamat membaca.
Samsung Galaxy W I8150 adalah salah satu smartphone yang kurang beruntung, yang telah resmi membantah akan adanya upgrade ke Android 4.0 Ice Cream Sandwich (ICS) Para Pengembang Android telah merilis AOKP berbasis Android 4.0.4 ICS pembaruan ROM kustom. Ini merupakan langkah nyata untuk para pengguna Galaxy W untuk mengupgrade galaxynya
Kunci Poin Catatan
- ROM dan petunjuk yang diberikan dalam panduan ini hanya berlaku untuk model Samsung Galaxy W I8150 dan tidak akan bekerja dengan model lain. Verifikasi nomor model perangkat Anda dengan menavigasi ke Settings> About phone.
- IBTimes Inggris menyarankan pengguna untuk aplikasi backup, data penting dan pengaturan untuk menghindari kehilangan data saat menginstal AOKP berbasis Android 4.0.4 ICS update.
- Petunjuk yang diberikan dalam panduan ini dimaksudkan untuk tujuan referensi saja dan tidak mencakup klaim garansi yang melibatkan kerusakan perangkat atau isu-isu yang timbul dari menggunakan update firmware AOKP. Pengguna disarankan untuk melanjutkan resiko mereka sendiri.
- Pastikan kita bermental sabar dan ulet karena butuh banyak kesabaran dalam proses peng"upgradan
Persyaratan:
- Pastikan bahwa ponsel Galaxy Anda memiliki USB driver yang benar dipasang untuk mengaktifkan konektivitas dengan komputer. Unduh Samsung Galaxy W driver I8150.
- Aktifkan USB mode debugging, yang memungkinkan konektivitas antara ponsel Android Anda dan PC.
- Pastikan bahwa baterai ponsel Anda terisi penuh atau memegang setidaknya 85 persen pengisian untuk menghindari shutdown yang tak terduga perangkat (karena baterai rendah) sementara flashing ROM AOKP kebiasaan atau menginstal pembaruan Jelly Bean.
- Pastikan bahwa ponsel Anda adalah pabrik dibuka dan pemulihan ClockworkMod diinstal di atasnya cara instal ClockWorkMod
Langkah 1 - Download Android 4.0.4 AOKP ICS ROM untuk Galaxy W pada komputer Anda.
Langkah 2 - Hubungkan Galaxy W Anda dan jadikan mass storage USB di komputer Anda menggunakan kabel USB.
Langkah 3 - Copy Android 4.0.4 ROM file zip ke folder root pada SD card ponsel Anda.
Langkah 4 - Matikan ponsel Anda dan boot ke recovery mode.
Langkah 5 - Untuk melakukan hal ini, daya pada telepon saat tombol menekan dan menahan Volume Naik, Home dan Power.
Langkah 6 - Ikuti petunjuk pada layar navigasi. Pilih bootloader dan kemudian boot ke Recovery.
Langkah 7 - Setelah Anda memasukkan pemulihan ClockworkMod, melakukan wipe data dulu. Kemudian gulir dan pilih zip flash dari opsi kartu SD. Akhirnya, tekan tombol Daya untuk memulai pemulihan.
Langkah 8 - Tekan tombol Power lagi dan klik pilih zip dari sdcard.
Langkah 9 - Gunakan tombol volume di telepon untuk mencari dan menemukan Android 4.0.4 file ROM zip dan pilih menggunakan tombol Power. Konfirmasikan instalasi ROM pada layar berikutnya dan proses instalasi harus dimulai.
Langkah 10 - Setelah ROM terpasang, tekan Kembali dan klik sistem reboot sekarang dari menu recovery. Ponsel akan restart sekarang dan boot pertama mungkin memakan waktu sekitar 5 menit. Jadi, biarkan saja.
AOKP berbasis Android 4.0.4 ICS kini berhasil diinstal pada Galaxy W I8150 Anda. Pergi ke Settings> About phone untuk memverifikasi versi firmware diinstal.
semoga bermanfaat
:-D
Sumber: http://www.ibtimes.co.uk/articles/387819/20120925/update-galaxy-w-i8150-android-ics-aokp.htm
Minggu, 13 Januari 2013
ASKEP KARDIOVASKULER
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN BEDAH JANTUNG DAN ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN
KONDUKSI JANTUNG
PRODI D III KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KOTA SUKABUMI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Bedah
jantung dilakukan untuk menangani berbagai masalah jantung. Prosedur yang
sering mencakup angioplasti koroner perkutan, revaskularisasi arteri koroner
dan perbaikan penggantian katup jantung yang rusak
Di
masa kini, pasien dengan penyakit jantung dan komplikasi yang menyertainya
dapat dibantu untuk mencapai kualitas hidup yang lebih besar dan yang
diperkirakan sepuluh tahun sham.Dengan prosedur diagnostik yang canggih yang
memungkinkan diagnostik dimulai lebih awal dan lebih akurat, menyebabkan
penanganan dapat dilakukan jauh sebelum terjadi kelemahan yang
berarti.Penanganan dengan teknologi dan farmakoterapi yang baru terus
dikembangkan dengan cepat dan dengan keamanan yang semakin meningkat.
Mungkin
tak ada intervensi terapi yang begitu berarti seperti pembedahan jantung yang
dapat memperbaiki kualitas hidup pasien dengan penyakit jantung.
Pembedahan jantung pertama yang berhasil, penutupan luka tusuk ventrikel kanan, telah dilakukan di tahun 1895 oleh ahli bedah halls de Vechi. Di Amerika Serikat pembedahan serupa yang sukses, jugs penutupan luka tusuk, dilakukan di tahun 1902. Diikuti oleh pembedahan katup di tahun 1923 dan 1925, penutupan duktus paten di tahun 1937 dan 1938, dan reseksi koarktasi aorta pada tahun 1944. Era baru tandur pintasan arteri koroner bermuladi tahun 1954.
Pembedahan jantung pertama yang berhasil, penutupan luka tusuk ventrikel kanan, telah dilakukan di tahun 1895 oleh ahli bedah halls de Vechi. Di Amerika Serikat pembedahan serupa yang sukses, jugs penutupan luka tusuk, dilakukan di tahun 1902. Diikuti oleh pembedahan katup di tahun 1923 dan 1925, penutupan duktus paten di tahun 1937 dan 1938, dan reseksi koarktasi aorta pada tahun 1944. Era baru tandur pintasan arteri koroner bermuladi tahun 1954.
Perkembangan
yang paling revolusioner dalam perkembangan pembedahan jantung adalah teknik
pintasan jantung-paru.Pertama kali digunakan dengan berhasil pada manusia di
tahun 1951.Di masa kini lebih dari 250.000 prosedur yang dilakukan dengan
menggunakan pintasan jantung paru.Terbanyak (lebih dari 200.000) dilakukan di
Amerika Utara. Kebanyakan prosedur adalah graft pintasan arteri koroner (CABG =
coronary artery bypass graft) dan perbaikan atau penggantian katup.
Kemajuan
dalam diagnostik, penatalaksanaan medis, teknik bedah dan anestesia, dan
pintasan jantung paru, dan juga perawatan yang diberikan di unit perawatan
kritis serta program rehabilitasi telah banyak membantu pembedahan menjadi pilihan
penanganan yang aman untuk pasien dengan penyakit jantung.
1.2 Tujuan
·
Tujuan umun :
Untuk
memenuhi tugas mata kuliah keperawatan medikal bedah I
·
Tujuan khusus :
Tujuan di buatnya makalah ini agar mahasiswa dapat memahami
tentang asuhan keperawatan pada klien dengan bedah jantung dan asuhan
keperawatan pada klien dengan gaangguan irama jantung akibat konduksi,dengan
menerapkan proses asuhan keperawatan.
1.3
Metode Penulisan
1.
Deskripsi analisis :
merupakan metode dalam menyusun makalah dimana penyusun menggunakan pengamatannya
atau analisisnya untuk menentukan masalah yang terjadi.
2.
Library : merupakan metode
dalam penyusunan makalah dimana penyusun memperoleh data yang dibutuhkan dari berbagai buku.
3.
Browsing (internet)
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1.BEDAH
JANTUNG
A. Pengertian
Bedah jantung adalah usaha atau operasi
yang dikerjakan untuk melakukan koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung.
Operasi
Jantung dibagi menjadi dua, yaitu :
1.
Operasi jantung terbuka, yaitu operasi
yang dijalankan dengan membuka rongga jantung dengan memakai bantuan mesin
jantung paru (mesin extra corporal).
2.
Operasi jantung tertutup, yaitu setiap
operasi yang dijalankan tanpa membuka rongga jantung misalnya ligasi PDA,
Shunting aortopulmonal.
B. Tujuan Operasi Jantung
Operasi
jantung dikerjakan dengan tujuan baermacam-macam antara lain :
1.
Koreksi total dari kelainan anatomi yang
ada, misalnya penutupan ASD, Pateh VSD, Koreksi Tetralogi Fallot, Koreksi
Transposition Of Great Arteri (TGA). Umumnya
tindakan ini dikerjakan terutama pada anak-anak (pediatrik) yang
mempunyai kelainan bawaan.
2.
Operasi paliatif yaitu melakukan operasi
sementara untuk tujuan mempersiapkan operasi yang definitif/total koreksi
karena operasi total belum dapat dikerjakan saat itu, misalnya shunt
aortopulmonal pada TOF, Pulmonal atresia.
3.
Repair yaitu operasi yang dikerjakan
pada katub jantung yang mengalami insufisiensi.
4.
Replacement katup yaitu operasi
penggantian katup yang mengalami kerusakan.
5.
Bypass koroner yaitu operasi yang
dikerjakan untuk mengatasi stenosis/sumbatan arteri koroner.
6.
Pemasangan inplant seperti kawat ‘pace maker’ permanen pada anak-anak dengan blok
total atrioventrikel.
7.
Transplantasi jantung yaitu mengganti
jantung seseorang yang tidak mungkin diperbaiki lagi dengan jantung donor dari
penderita yang meninggal karena sebab lain.
C. Indikasi
Indikasi
dilakukannya bedah jantung, yaitu dilakukan pada klien yang mengalami :
1.
“Left to rigth shunt” sama atau lebih
dari 1,5 (aliran paru dibandingkan aliran ke sistemik ³ 1,5).
2.
“Cyanotic
heart disease “.
3.
Kelainan anatomi pembuluh darah besar
dan coroner
4.
Stenosis katub yang berat (symtomatik).
5.
Regurgitasi katub yang berat
(symtomatik)
6.
Angina pektoris kelas III dan IV menurut
Canadian Cardiology Society (CCS).
7.
“Unstable
angina pectoris”.
8.
Aneurisma dinding ventrikel kiri akibat
suatu infark miokardium akut.
9.
Komplikasi akibat infark miokardium akut
seperti VSD dan mitral regurgitasi yang berat karena ruptur otot papilaris.
10. “Arrhytmia” jantung misalnya WPW syndrom.
11. Endokarditis/infeksi
katub jantung.
12. Tumor
dalam rongga jantung yang menyebabkan obstruksi pada katub misalnya myxoma.
13. Trauma
jantung dengan tamponade atau perdarahan.
2.2.ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BEDAH JANTUNG
1. PRA OPERATIF
A. PERSIAPAN
Persiapan
yang harus dilakukan pada klien pra operatif bedah jantung antara lain:
a. Persiapan
Mental
Menyiapkan klien secara mental siap
menjalani operasi, menghilangkan kegelisahan menghadapi operasi. Hal ini
ditempuh dengan wawancara dengan dokter bedah dan kardiolog tentang indikasi
operasi, keuntungan operasi, komplikasi operasi dan resiko operasi. Diterangkan
juga hal-hal yang akin dialami atau dikerjakan di kamar operasi dan ICU dan
alat yang akin dipasang, juga termasuk puasa, rasa sakit pada daerah operasi
dan kapan drain dicabut.
b.
Persiapan Medikal
1.
Obat -obatan :
ü Semua
obat-obatan anti koagulan harus dihentikan satu minggu sebelum operasi (minimal
3 hari sebelum operasi)
ü Aspirin
dan obat sejenis dihentikan 1 minggu sebelum operasi
ü Digitalis
dan diuretik harus dihentikan 1 hari sebelum operasi
ü Antidiabetik
deerskin dan bila perlu dikonversi dengan insulin injeksi selama operasi
ü Obat-obat
jantung diteruskan sampai hari operasi
ü Antibiotika
hanya diberikan untuk profilaksis dan diberi waktu untuk induksi anestesi di
kamar operasi, hanya diperlukan test kulit sebelum alergi, untuk mengetahui
adanya alergi atau tidak.
2.
Laboratorium 1 hari sebelum operasi
antara lain :
ü Hematologi
lengkap + hemostasis
ü LFT
ü Ureum
, Creatinin
ü Gula
darah
ü Urine
lengkap
ü Enzim
CK dan CKMB Untuk CABG
ü Hb
s Ag
ü Gas
darah
3.
Persiapan darah untuk operasi
Permintaan
darah ke PMI terdiri dari :
ü Packad
cell : 750cc
ü Frash
frozen plasma : 1000cc
ü Trombosit : 3 unit
4.
Mencari infeksi fokal
Biasanya
dicari gigi berlubang atau tonsillitis kronis dan ini dikonsultasikan ke bagian
THT dan gigi. Kelainan kulit seperti dermatitis dan furonkolisis atau bisul harus diobati dan
juga tidak dalam masa inklubasi atau infeksi penyakit menular.
5.
Fisioterapi dada
Untuk
melatih dan meningkatkan fungsi paru selama di ICU dan untuk mengajarkan
bagaimana caranya mengeluarkan sputum setelah operasi untuk encage retensi
sputum. Bila penderita diketahui menderita asma dan penyakit paru obstruksi
menahun (PPOM) maka fisioterapi harus lebih intensif dikerjakan dan
kadang-kadang spirometri juga membantu untuk melihat kelainan yang dihadapi.
Bila perlu konsultasi ke dokter ahli paru untuk prolem yang dihadapi.
6.
Perawatan sebelum operasi
Saat ini perawatan sebelum operasi dengan
Persia pan yang matang dari poliklinik maka perawatan sebelum operasi dapat
diperpendek 1-2 hari sebelum operasi. Hal ini untuk mempersiapkan mental klien
dan supaya tidak bosan di rumah sakit.
c. Informed
Consent :
§ Alasan pembedahan
§ Pilhan dan resikonya
§ Resiko pembedahan
§ Resiko anestesi
d. Anggota tim pembedahan
§ Tim pembedahan terdiri dari :
1.
Ahli
bedah
2.
Tim
pembedahan dipimpin oleh ahli bedah senior atau ahli bedah yang sudah melakukan
operasi.
3.
Asisten
pembedahan (1orang atau lebih) asisten bius dokter, risiden, atau perawat, di
bawah petunjuk ahli bedah. Asisten memegang retractor dan suction untuk melihat
letak operasi.
4.
Anaesthesologist
atau perawat anaesthesi.
§ Tugas tim pembedahan:
1.
Set
up ruangan operasi
2.
Menjaga
kebutuhan alat
3.
Check
up keamanan dan fungsi semua peralatan sebelum pembedahan
4.
Posisi
klien dan kebersihan daerah operasi sebelum drapping
5.
Memenuhi
kebutuhan klien, memberi dukungan mental, orientasi klien
6.
Mengkoordinasikan
aktivitas
7.
Mengimplementasikan
NCP
8.
Membenatu
anesthetic
9.
Mendokumentasikan
secara lengkap drain, kateter, dll.
e.
Persiapan
kamar dan team pembedahan
Keamanan klien diatur dengan adanya ikat klien dan
pengunci meja operasi. Dua factor penting yang berhubungan dengan keamanan kamar
pembedahan : lay out kamar operasi dan pencegahan
infeksi.Ruang harus terletak diluar gedung RS dan bersebelahan dengan RR dan pelayanan
pendukung (bank darah, bagian pathologi dan radiology, dan bagian
logistik).Alur lalu lintas yang menyebabkan kontaminasi dan ada pemisahan
antara hal yang bersih dan terkontaminasi design (protektif, bersih, steril dan
kotor).Besar ruangan tergantung pada ukuran dan
kemampuan rumah sakit.
f.
Kebersihan
dan Kesehatan Team Pembedahan.
Sumber utama kontaminasi bakteri team pembedahan yang
hygiene dan kesehatan ( kulit, rambut, saluran pernafasan).
§ Pencegahan kontaminasi :
1.
Cuci
tangan.
2.
Handscoen.
3.
Mandi.
4.
Perhiasan
(-).
§ Pakaian bedah.
Terdiri
: Kap, Masker, gaun, Tutup sepatu, baju OK.
Tujuan:
Menurunkan kontaminasi.
§ Cuci tangan pembedahan dilakukan oleh :
1.
Ahli
Bedah
2.
Semua
asisten
3.
Scrub
nurse.
§ Alat-alat:
1.
Sikat
cuci tangan reuable / disposible.
2.
Anti
microbial : betadine.
3.
Pembersih
kuku.
4.
Waktu
: 5 – 10 menit dikeringkan dengan handuk steril.
B.
PENGKAJIAN
Pengkajian
pasien dilakukan untuk membuat rencana perawatan pada klien bedah jantung.
diantaranya :
a.
Riwayat
Riwayat
harus mencakup informasi tentang status kesehatan pasien sebelumnya dan harapan
atau persepsinya terhadap penyakit dan intervensi yang akan dilakukan.
1.
Riwayat kesehatan masa lalu
Kaji
tentang riwayat kesehatan masa lalu klien, apakah klien pernah mengalami penyakit
yang sama atau pernah dirawat dengan keluhan yang sama
2.
Riwayat kesehatan sekarang
Kaji
tentang keluhan yang dirasakan klien saat ini. Biasanya klien pra operasi
mengalami rasa cemas dan takut.
3.
Riwayat kesehatan keluarga
Kaji
apakah di dalam keluarga ada yang mengalami penyakit yang sama dan apakah ada
penyakit keturunan
b.
Faktor-faktor individual dan social
berikut ini juga perlu dikaji :
1.
Asupan kopi
2.
Status nutrisi
3.
Pola tidur
4.
Faktor kerja dan ekonomi
5.
Jauh dari fasilitas laboratorium
6.
Aktivitas
7.
Pengaturan hidup
8.
Dinamika keluarga
9.
Pendidikan
10. Kepercayaan
dan nilai keagamaan dan budaya.
c.
Pemeriksaan fisik
·
Kesadaran
·
Tanda
vital : TN, N, R, Suhu.
·
Status
nutrisi dan cairan, berat dan tinggi badan
·
Sistem
integumen : Pucat
Sianosisa
dakah penyakit kulit di area badan.
·
Inspeksi
dan palpasi jantung, menentukan titik impuls
·
Auskukasi
jantung, mencatat frekuensi nadi, mama dan kualitasnya. S,S4, snap,klik,murmur,
friction rub
·
Tekanan
vena jugularis
·
Denyut
nadi perifer
·
Edema
perifer
C.
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Diagnosa
keperawatan bagi pasien yang menjalani pembedahan jantung sangat bervariasi
antara pasien satu dengan pasien lain,tergantung penyakit jantung mereka dan
simptomatologinya- Kebanyakari pasien mernpunyai diagnosa keperawatan penurunan
curah jantung.Selain itu, diagnosa keperawatan praoperatif bagi kebanyakan
pasien mencakup yang berikut:
1. Anxietas berhubungan dengan
prosedur pembedahan. hasil pembedahan yang
belum jelas,dan takut akan kehilangan keadaan sehat
2.
Kurangnya
pengetahuan berhubungan dengan prosedur pembedahan
D.
INTERVENSI KEPERAWATAN
DX 1 : Anxietas berhubungan dengan prosedur
pembedahan. Hasil pembedahan yang belum jelas, dan axietas akan kehilangan
keadaan sehat.
Tujuan : untuk meengurangi rasa takut klien terhadap prosedur pembedahan
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
Hasil
yang diharapkan
|
1.
2.
3.
|
Jelaskan
prosedur pembedahan
Jelaskan
hasil dari pembedahan
Berikan
dorongan psikologis
|
Dapat
mengurangi kecemasan klien
Jika
klien mengetahui hasil dilakukannya pembedahan, maka klien akan merasa tidak
takut
Dorongan
psikologis dapat mengurangi stesor yang ada pada klien sehingga klien tidak
takut
|
Klien
tampak tenang, tidak cemas
Klien
tidak takut untuk dilakukan pembedahan
Klien
tampak tenang, tidak takut, dapat beristirahat.
|
DX
2 :
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan prosedur pembedahan
Tujuan : Agar
klien mengetahui prosedur pembedahan yang akin dilakukan sehingga klien merasa tidak cemas.
No
|
Intervensi
|
Rasional
|
Tujuan yang diharapkan
|
1.
2.
|
Lakukan
penkes pada klien dan keluarga
Menjelaskan prosedur pembedahan
jantung
|
Dengan
memberikan penkes klien akin mengetahui tentang prosedur pembedahan
Dengan menjelaskan prosedur, klien
akin lebih mmahami dan tidak takut
|
Klien
mengerti, Memahami proses pembedahan
Klien
mengetahui prosedur pembedahan, sehingga klien tidak takut lagi
|
2. INTRA OPERATIF
Hal-hal yang
dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi anaesthesi total
adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang diberi anaesthesi
lokal ditambah dengan pengkajian psikososial.
Secara garis besar hal-hal yang perlu dikaji adalah :
a.
Pengkajian mental
Bila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien masih sadar / terjaga maka sebaiknya
perawat
menjelaskan prosedur yang sedang dilakukan terhadapnya dan memberi dukungan agar pasien tidak
cemas/takut menghadapi prosedur tersebut
b. Pengkajian fisik
·
Tanda-tanda vital
(Bila
terjadi ketidaknormalan tanda-tanda vital dari pasien maka perawat harus memberitahukan
ketidaknormalan tersebut kepada ahli bedah).
·
Transfusi
(Monitor
flabot transfusi sudah habis apa belum. Bila hampir habis segera diganti dan juga dilakukan observasi jalannya
aliran transfusi).
·
Infus
(Monitor
flabot infuse sudah habis apa belum. Bila hampir habis harus segera diganti dan
juga dilakukan observasi jalannya aliran
infuse).
·
Pengeluaran urin
Normalnya
pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1 cc/kg BB/jam.
Selain membantu prosedur pembedahan, perawat bedah juga
bertanggung jawab terhadap kenyamanan dan keamanan pasien. Ruang lingkup
intervensinya meliputi mengatur posisi, perawatan kulit serta dukungan
emotional terhadap pasien dan keluarganya.
3.
POST OPERATIF
A.
Pengkajian
1.
Status
Respirasi, meliputi:
Ø Kebersihan jalan nafas
Ø Kedalaman pernafasaan.
Ø Kecepatan dan sifat pernafasan.
Ø Bunyi nafas
2.
Status
sirkulatori, meliputi:
Ø Nadi
Ø tekanan darah
Ø Suhu
Ø Warna kulit
3.
Status
neurologis, meliputi :
Ø Tingkat kesadaran
Ø Balutan
Ø Keadaan drain
Ø Terdapat pipa yang harus disambung dengan sistem drainage.
4.
Kenyamanan,
meliputi
Ø Terdapat nyeri
Ø Mual
Ø Muntah
5.
Keselamatan,
meliputi :
Ø
Diperlukan
penghalang samping tempat tidur.
Ø
Kabel
panggil yang mudah dijangkau.
Ø
Alat
pemantau dipasang dan dapat berfungsi.
6.
Perawatan,
meliputi :
Ø Cairan infus, kecepatan, jumlah cairan, kelancaran
cairan.
Ø Sistem drainage : bentuk kelancaran pipa, hubungan dengan
alat penampung, sifat dan jumlah drainage.
7.
Nyeri,
meliputi :
Ø Waktu
Ø Tempat.
Ø Frekuensi
Ø Kualitas
Ø Faktor yang memperberat / memperingan
B.
Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
Diagnosa keperawatan: peunurunan curah jantung
berhubungan dengan kehilangan darah dan gangguan fungsi miokardium.
Tujuan : mengembalikan curah jantung untuk
menjaga/mencapai gaya hidup yang diinginkan.
Intervensi
keperawatan
Intervensi Keperawatan
|
Rasional
|
Hal yang di harapkan
|
1. Pantau
status kardiovaskuler. Pembacaan berkala tekanan darah arteri, atrium kiri,
arteri pulmonalis, tekanan baji arteri pulmonalis (PAWP), tekanan vena
sentral (CVP), indeks /curah jantung, tahanan vaskulersistemik dan pulmonal,
dan irama frekuensi jantung dicatat dan dihubungkan dengan kondisi pasien.
a.
Lakukan pengkajian tekanan arteri
setiap 15 menit sampai stabil,dan sesuai petunjuk selanjutnya.
b.
Lakukan auskultasi suara dan
irama jantung.
c.
Lakukan pengkajian denyut nadi
perifer (pedis,tibialis,popliteal,femoralis,radialis,brakhialis,carotis)
d.
Lakukan pengukuran tekanan atrium
kiri,tekanan diastolic arteri pulmonalis (PAD), PAWP untuk mementukan volume
akhir diastolic ventrikel kiri dan untuk mengkaji curah jantung.
e.
Lakukan pemantauan PAWP, PAD,
tekanan atrium kiri, dan CVP untuk mengkaji volume darah, tonus vaskuler, dan
efektifitas pemompaan jantung.
f.
Pantau pola EKG mengenai adanya
disritmia jantung
g.
Lakukan pengkajian enzim jantung
tiap hari(bilaperlu)
h.
Lakukan pengukuran haluaran urin
mula-mula tiap ½ sampai satu jam kemudian sesuai tanda vital.
i.
Lakukanobservasi mukosa pipi,
dasar kuku,bibir,cuping telinga dan ekstremitas.
j.
Lakukan pengkajian kulit
perhatikan suhu dan warnanya.
2. Observasi
adanya perdaraha persisten, drainase darah yang terus meneruus dan menetap,hipotensi,CVP
rendah;takikardi,persiapan pemberian produk darah,larutan intravena.
3. Observasi
adanya temponade jantung:hipotensi,peningkatan PAWP,PAD,tekanan atrium
kiri,atau CVP;bunyi janutng lemah ;denyut nadi lemah;distensi vena
juguler;penuruna haluaran urin.lakukan pengecekan berkurangnya darah dalam
system drainase dada. Lakukan persiapan untuk perikardiosentesis .
4. Observasi
gagal jantung : hipotensi, peninggian PAWP,PAD,CVP dan tekana atrium kiri,
takikardi,gelisah,agitasi,sianosis,distensi vena,dispneu,asites. Persiapkan
pemberian diuretic dan digitalis.
5. Melakukan
observasi adanya infark miokardium: elevasi segmen ST ,perubahan gelombang T,
penurunan curah jantung dalam keadaan volume peredaran dan tekanan pengisian
normal. Lakukan pemeriksaan EKG dan isoenzim berkala. Membedakan antara nyeri
miokardialda nyeri bekas irisan bedah.
|
1. ktifitas
curah jantung ditentukan oleh pemantauan hemodinamika.
a.
Tekanan darah merupakan salah
satu parameter fisiologis yang paling penting yang diikuti; vasokontriksi setelah
pintasan jantung paru menyebabkan kesukaran dalam melakukan auskultasi
tekanan darah.
b.
Auskultasi memberikan bukti
adanya tamponade jantung (suara jantung yang menjauh), pericarditis (gesek
prekordial), disritmia.
c.
Ada atau tidaknya dan kualitas
denyut memberikan data mengenai curah jantung
selain adanya lesi obstruktif.
d.
Peninggian tekanan menunjukan gagal jantung kongestif atau
edema paru.
e.
PAWP,PAD,tekanan atrium kiri atau
CVP yang tinggi bisa di sebabkan oleh hypervolemia, gagal jantung, tamponade
jantung;bila turunnya tekanan darah disebabakan oleh volume darah yang
rendah,maka PAWP,PAD, tekanan atrium kiri dan CVP juga akan menunjukan
penurunan yang sesuai.
f.
Disritmia dapat terjadi pada
iskemia coroner, hipoksia, gangguan kalium darah, edema,perdarahan, gangguan
asam basa atau elektrolit, keracuna digitalis, gagal jantung. perubahan
segmen ST menunjukan iskemia miokardium atau spasme arteria coroner.
g.
Peningkatannya menunjukan infark miokardium.
h.
Haluaran urin kurang dari 30
ml/jam menunjukan penuruna curah jantung dan penuruna perfusi ginjal.
i.
Warna yang kehitaman dan sianosis
menunjukan penurunan curah jantung .
2. Perdarahan
dapat terjadi akibat insisi jantung, kerapuhan jaringan, trauma jaringan,
gangguan pembekuan.
3. Temponade
jantung dapat terjadi akibat perdarahan kedalam kantung pericardium atau
penimbunan cairan dalam kantung, yang akan menekan jantung dan menghambat
pengisian ventrikel secara adekuat. Penurunan drainase dada menunjukan bahwa
cairan terkumpul dalam kantung pericardium.
4. Gagal
jantung yang terjadi akibat penurunan aksi pemompaan jantung; dapat
mengakibatkan berkurangnya perfusi ke organ fital.
5. Gejala
yang bisa tertutup oleh tingkat
kesadaran pasien dan obat anti nyeri.
|
Parameter tersebut harus tetap dalam
batas normal.
·
Tekanan arteria
·
Tekanan atrium kiri
·
PAWP
·
Tekanan arteri paru
·
CVP
·
Suara jantung
·
Tahanan vaskuler pulmonal dan
sistemik
·
Curah jantung dan indeks jantung
·
Denyut nadi perifer
·
Kecepatan dan irama jantung
·
Enzim jantung
·
Curah urine
·
Warna kulit dan mukosa
·
Suhu kulit
·
Drainase dada melalui selang pada
4 sampai 6 jam pertama kurang dari 300 ml/jam.
·
Tanda vital stbil
·
Penyaliran pipa dada sesuai yang
dihapapkan.
·
CVP dan tekanan atrium kiri dalam
batas normal.
·
Warna kulit normal
·
Curah urin dalam batas normal
·
Pernapasan tidak terpaksa,suara
nafas jernih.
·
Nyeri terbatas pada tempat irisan
·
EKG dan isoenzim negative
terhadap perubahan iskemik
|
Diagnosa keperawatan : Risiko gangguan pertukaran
gas berhubungan dengan trauma pembedahan dada eksensif.
Tujuan : Pertukaran gas adekuat
Intervensi
Keperawatan
Intervensi keperawatan
|
rasional
|
Hasil yang diharapkan
|
Melakukan pengkajian status respirasi dan
mengusahakan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat.
1. Jaga
ventilasi assistcontrolled, atau intermiten (bila mungkin sinkronus)
2. Pantau
gas darah,volume tidal, tekanan inspirasi puncak,dan parameter ekstubasi.
3. Auskultasi
dada terhadap suara nafas.
4. Tenangkan
pasien,sesuai resep,dan memantau kecepatan dan kedalaman respirasi bila
ventilasi tidak dalam “control”
5. Berikan
fisioterapi dada sesuai resep.
6. Anjurkan
untuk menarik nafas dalam,batuk efektif, dan berpindah posisi. Anjurkan untuk
memakai spirometer dan mematuhi terapi napas.
|
1. Dukungan
ventilasi digunakan pada 4 sampai 48 jam untuk mengurangi kerja jantung,
mempertahankan ventilasi yang efektif, dan memberikan jalan nafas bila
terjadi henti jantung.
2. ABG
dan volume tidal menunjukan efektifitas ventilator dan perubahan yang harus
dilakukan untuk memperbaiki pertukaran gas.
Krekel menunjukan kongesti paru,penurunan
atau hilangnya suara nafas menunjukan pneumotoraks.
3. Sedasi
membantu pasien mentoleransi selang endotrakteal dan mengatasi sensasi
ventilasi ;sedative dapat menekan kecepatan dan kedalaman respirasi.
4. Membantu
dalam mencegah retensi sekresi dan atelectasis
5. Membantu
menjaga jalan nafas tetap paten,mencegah atelectasis dan memungkinkan
pengembangan paru.
|
·
Jalan napas paten
·
ABG dalam batas normal
·
Suara nafas jernih
·
Ventilator sinkrondengan
respirasi
·
Suara nafas jernih setelah
penghisapan
·
Dasar kuku membrane mukosa merah
jambu
·
Ketajaman mental sesuai dengan
jumlah sedative dan analgetik yang diterima
·
Terorientasi terhadap orang yang
mampu memjawab ya atau tidak.
|
2.3 ASUHAN
KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ARITMIA
1.
Definisi
Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan
komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium.Aritmia atau disritmia adalah
perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan oleh konduksi
elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999).
Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi
sel-sel miokardium.Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai
perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel
(Price, 1994).Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut
jantung tapi juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi,
1996).
2.
Macam-macam Aritmia
a.
SinusTakikardi
Meningkatnya aktifitas
nodus sinus, gambaran yang penting pada ECG adalah : laju gelombang lebih dari
100 X per menit, irama teratur dan ada gelombang P tegak disandapan I,II dan
aVF.
b.
Sinus bradikardi
Penurunan laju depolarisasi atrim.
Gambaran yang terpenting pada ECG adalah laju kurang dari 60 permenit, irama
teratur, gelombang p tegak disandapan I,II dan aVF.
c.
Komplek atrium premature
Impul listrik yang berasal di atrium
tetapi di luar nodus sinus menyebabkan kompleks atrium prematur, timbulnya sebelu
denyut sinus berikutnya. Gambaran ECG menunjukan irama tidak teratur, terlihat
gelombang P yang berbeda bentuknya dengan gelombang P berikutnya.
d.
Takikardi Atrium
Suatu episode takikardi atrium biasanya
diawali oleh suatu kompleks atrium prematur sehingga terjadi reentri pada tingkat
nodus AV.
e.
Fluter atrium.
Kelainan ini karena reentri pada tingkat
atrium. Depolarisasi atrium cepat dan
teratur, dan gambarannya terlihat terbalik disandapan II,III dan atau aVF seperti gambaran gigi gergaji
f.
Fibrilasi atrium
Fibrilasi atrium bisa tibul dari fokus
ektopik ganda dan atau daerah reentri multipel.Aktifitas atrium sangat
cepat.sindrom sinus sakit
g.
Komplek jungsional premature
h.
Irama jungsional
i.
Takikardi ventrikuler
3.
Etiologi
Etiologi aritmia
jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh : Peradangan jantung,
misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena infeksi)
Gangguan sirkulasi
koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya iskemia
miokard, infark miokard.
Karena obat
(intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia
lainnya.
·
Gangguan keseimbangan elektrolit
(hiperkalemia, hipokalemia)
·
Gangguan pada pengaturan susunan saraf
autonom yang mempengaruhi kerja dan irama jantung
·
Ganggguan psikoneurotik dan susunan
saraf pusat.
·
Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)
·
Gangguan endokrin (hipertiroidisme,
hipotiroidisme)
·
Gangguan irama jantung karena
kardiomiopati atau tumor jantung
·
Gangguan irama jantung karena penyakit
degenerasi (fibrosis sistem konduksi jantung).
4.
Manifestasi Klinis
Perubahan
TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi;
bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra,denyut menurun; kulit pucat,
sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun
berat. Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi,
perubahan pupil. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan
obat antiangina, gelisah,Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman
pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan
komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau
fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.demam; kemerahan kulit (reaksi
obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus
otot/kekuatan.
5.
Evaluasi Diagnostik
·
EKG : menunjukkan pola cedera iskemik
dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek
ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.
·
Monitor Holter : Gambaran EKG (24 jam)
mungkin diperlukan untuk menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala
khusus bila pasien aktif (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk
mengevaluasi fungsi pacu jantung/efek obat antidisritmia.
·
Foto dada : Dapat menunjukkanpembesaran
bayangan jantung sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katu
·
Skan pencitraan miokardia : dapat
menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang dapat mempengaruhi konduksi
normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa.
·
Tes stres latihan : dapat dilakukan
utnnuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan disritmia.
·
Elektrolit : Peningkatan atau penurunan
kalium, kalsium dan magnesium dapat mnenyebabkan disritmia.
·
Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan
toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan atau dugaan interaksi obat contoh
digitalis, quinidin.
·
Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau
penururnan kadar tiroid serum dapat menyebabkan.meningkatkan disritmia.
·
Laju sedimentasi : Penignggian dapat
menunukkan proses inflamasi akut contoh endokarditis sebagai faktor pencetus
disritmia.
·
GDA/nadi oksimetri : Hipoksemia dapat
menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.
6. Penatalaksanaan
Medis
1.
Terapi Medis
Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas
yaitu : Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker
Ø Kelas
1 A
·
Quinidine adalah obat yang digunakan
dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau
flutter.
·
Procainamide untuk ventrikel ekstra
sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi.Dysopiramide untuk
SVT akut dan berulang
Ø Kelas
1 B
·
Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat
iskemia miokard, ventrikel takikardia.
·
Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT
Ø Kelas
1 C
·
Flecainide untuk ventrikel ektopik dan
takikardi
·
Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik
blokade)
·
Atenolol, Metoprolol, Propanolol :
indikasi aritmi jantung, angina pectorisdan hipertensi
·
Anti aritmia kelas 3 (Prolong
repolarisation)
·
Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang
·
Anti aritmia kelas 4 (calcium channel
blocker)
·
Verapamil, indikasi supraventrikular
aritmia
2.
Terapi Mekanis
Ø Kardioversi
: mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki
kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur elektif.
Ø Defibrilasi
: kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat.
Ø Defibrilator
kardioverter implantable : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang
mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi
ventrikel.
Ø Terapi
pacemaker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke
otot jantung untuk mengontrol frekuensi jantung.
2.4.ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN
DENGAN GANGGUAN ARITMIA
1. Pengkajian
a. Riwayat kesehatan masa lalu
Kaji kepada klien apakah klien pernah mempunyai penyakit yang sama dan
pernah dirawat di RS sebelumnya contoh: GJK, penyakit katup
jantung, hipertensi
b.
Riwayat
kesehatan sekarang
Tanyakan dan kaji kepada klien apakah yang dirasakan,biasanya pada klien
aritmia ,
pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan
pupil. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat
antiangina, gelisah,Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman
pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi)
c. Riwayat kesehatan Kesehatan Keluarga
Kaji dan
tanyakan kepada klien apakah didalam keluarga ada yang pernah mengalami
penyakit yang sama atau ada penyakit keturunan.contoh penyakit
jantung, stroke, hipertensi
A. Pengkajian
Fisik
a. Aktivitas
Kelelahan umum
b. Sirkulasi
Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi
); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur,
bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban berubah misal pucat,
sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung menurun
berat.
c.
Integritas ego
Perasaan
gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah, menangis.
d.
Makanan/cairan
Hilang
nafsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan mual muntah,
peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit.
e.
Neurosensori
·
Pusing, berdenyut, sakit kepala,
disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
·
Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada
ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
·
Pernafasan penyakit paru kronis, nafas
pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan
(krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti
pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal;
hemoptisis.
f.
Keamanan :
Demam; kemerahan kulit (reaksi
obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus
otot/kekuatan.
2.
Diagnosa dan
intervensi
Diagnosa
keperawatan :
Resiko
tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal,
penurunan kontraktilitas miokardia.
Tujuan
: Mempertahankan atau mrningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh
TD atau nadi dalam rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama,
status mental biasa. Menunjukan penurunan frekuensi atau tak adanya
disritmia,berpartisipasi dalam aktifitas yang menurunkan kerja miokardia.
no
|
intervensi
|
rasional
|
Hasil yang
diharapkan
|
1
|
1.
Raba
nadi (radial,femoral,dorsalis pedis) catat frekuensi,keteraturan,amplitude
dan simetris.
2.
Auskultasi
bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra,penurunan nadi.
3.
Pantau
tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung atau perfusi jaringan.
4.
Tentukan
tipe disritmia dan catat irama :takikardi,bradikardi,disritmia atrial,disritmia
ventrikel.
5.
Berikan
lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktifitas selama fase akut.
6.
Demonstrasikan
atau dorong pengguanaan prilaku pengaturan stress misal relaksasi nafas
dalam,bimbingan imajinasi.
7.
Selidiki
laporan nyeri,catat lokasi,lamanya,intensitas
dan factor penghilang atau pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal
contoh wajah mengkerut,menangis,perubahan TD.
8.
Kolaborasi:
·
Pantau
pemeriksaan laboratorium,contoh elektrolit.
·
Berikan
oksigen tambahan sesuai indikasi
·
Berikan
obat sesuai indikasi : kalium,antidisritmi
|
1.pada klien
aritmia, kelainan denyut nadi dapat terjadi. Seperti : takikardi, bradikardi.
2. Pada klien
aritmia, sering ada sura napas tambahan
3. penurunan
curah jantung dan perfusi jaringan dapat memperberat keadaan klien
4. dengan
menentukan tipe disritmia, akan memudahkan melakukan tindakan selanjutnya
5. lingkungan
yang tenang dapat membantu penyembuhan klien
6. dengan
melakukan relaksasi nafas, klien dapat mengurangi nyeri
7. lebih mudan
meng identifikasi masalah yang sedang
di derita klien.
8. dengan
berkolaborasi dapat memper cepat penyembuhan baik dari terapi yang diberikan
oleh dokter maupun asuhan keperawatan yang diberikan oleh perawa.
|
|
Diagnosa Keperawatan:
Kurang pengetahuan tentang
penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dengan kurang informasi atau salah
pengertian kondisi medis atau kebutuhan terapi.
Tujuan :
1.
Menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
2.
Menyatakan tindakan yang diperlukan dan memungkinkan efek samping obat.
no
|
intervensi
|
Rasional
|
Hasil yang
diharapkan
|
2
|
1.
Kaji
ulang fungsi jantung normal
2.
Jelaskan
atau tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada pasien atau
keluarga
3.
Identifikasi
efek merugikan atau komplikasi aritmia khusus contoh kelemaha,perubahan
mental,vertigo.
4.
Anjurkan
atau catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat
diperlukan;bagaimana dan kapan minum obat.
5.
Dorong
pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan
6.
Kaji
ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein
7.
Memberikan
informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang .con toh: diet
makanan
|
|
|
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bedah jantung adalah : Usaha atau
operasi yang dikerjakan untuk melakukan koreksi kelainan anatomi atau fungsi
jantung.
3.2 tujuan operasi
jantung
Operasi jantung dikerjakan dengan
tujuan baermacam-macam antara lain :
1. Koreksi total dari kelainan
anatomi yang ada, misalnya penutupan ASD, Pateh VSD, Koreksi Tetralogi Fallot,
Koreksi Transposition Of Great Arteri (TGA). Umumnya tindakan ini dikerjakan
terutama pada anak-anak (pediatrik) yang mempunyai kelainan bawaan.
2. Operasi paliatif yaitu melakukan
operasi sementara untuk tujuan mempersiapkan operasi yang definitif/total
koreksi karena operasi total belum dapat dikerjakan saat itu, misalnya shunt
aortopulmonal pada TOF, Pulmonal atresia.
3. Repair
yaitu operasi yang dikerjakan pada katub jantung yang mengalami insufisiensi.
4. Replacement
katup yaitu operasi penggantian katup yang mengalami kerusakan.
5. Bypass
koroner yaitu operasi yang dikerjakan untuk mengatasi stenosis/sumbatan arteri
koroner.
6. Pemasangan
inplant seperti kawat ‘pace maker’ permanen pada anak-anak dengan blok total
atrioventrikel.
7. Transplantasi
jantung yaitu mengganti jantung seseorang yang tidak mungkin diperbaiki lagi
dengan jantung donor dari penderita yang meninggal karena sebab lain.
Gangguan irama jantung atau aritmia
merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark miokardium.Aritmia atau
disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan irama jantung yang disebabkan
oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999).
3.3 Saran
Pada
klien dengan gangguan bedah jantung dan pada klien dengan gangguan irama
jantung akibat konduksi sebaiknya menjaga pola makan, istirahat, dan olah raga
yang teratur.
DAFTAR PUSTAKA
·
Sylvia A. Price
et. Al (1994). Patofisiologi Konsep
Klinis Proses-Proses Penyakit, Edisi 4 Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
·
Smeltzer S.C dan
Bare Brenda G (2002). Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth(Ed. 8 Vol 2), EGC,
Jakarta.
·
Carpenito Lynda
Juall (1999). Rencana Asuhan Keperawatan
dan Dokumentasi Keperawatan (Ed. 2), Jakarta : Penerbit buku kedokteran.
EGC.
·
Barbara C Long,
(1996). Perawatan Medikal Bedah, Edisi
II, Yayasan ikatan alumni pendidikan keperawatan padjajaran Bandung: Bandung.
·
Engram (1999). Rencanan Asuhan Keperawatan Medikal Bedah,
Volume 2, Terjemahan dari Medical Surgical Nursing Planning, (1993), Alih bahasa
Suharyati, EGC: Jakarta.
·
Doenges E
Marlynn (1999) Rencana Asuhan
Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien
(Edisi 3) Penerbit
Langganan:
Postingan (Atom)

